Keputusan kontroversial dalam Piala Afrika kembali memicu ketegangan, kali ini melibatkan Senegal yang menolak menyerahkan trofi juara meskipun gelarnya telah dicabut oleh CAF. Dalam laporan Mundo Deportivo, disebutkan bahwa otoritas Senegal bahkan mengamankan trofi tersebut ke pangkalan militer sebagai langkah antisipatif.
Pencabutan gelar oleh CAF dilakukan setelah adanya pelanggaran dalam laga final yang berujung pada keputusan administratif untuk mengalihkan status juara kepada Maroko. Namun, pihak Senegal menilai keputusan tersebut tidak merepresentasikan hasil di lapangan, sehingga menolak mengakui perubahan tersebut secara penuh.
Langkah membawa trofi ke fasilitas militer menjadi sorotan internasional, mengingat tindakan tersebut jarang terjadi dalam dinamika sepak bola modern. Jika biasanya trofi hanya disimpan di ruang federasi atau museum olahraga, kali ini “pengamanannya naik level”, seolah trofi tersebut memiliki nilai strategis layaknya aset negara.
Meski terkesan tidak biasa, tindakan ini mencerminkan kuatnya dimensi simbolik dalam olahraga, khususnya ketika kemenangan berkaitan dengan identitas dan kebanggaan nasional. Di tengah polemik yang belum mereda, situasi ini tidak hanya menjadi perdebatan hukum olahraga, tetapi juga menghadirkan ironi—bahwa sebuah piala sepak bola kini dijaga seketat objek vital negara.












