Oleh: Ahmad R Bakari (Pimred Wakilrakyat.co)
Di tengah riuh konflik tambang di Pohuwato, satu pola lama kembali dimainkan: menyerang figur, menggiring opini, lalu mengaburkan substansi. Kali ini, sasarannya adalah Yosar Ruaiba.
Rekam jejak lama diangkat, isu lama dihidupkan kembali, dan tudingan dilontarkan seolah-olah itu adalah kebenaran mutlak. Tujuannya jelas! melemahkan gerakan, meruntuhkan kepercayaan publik, dan pada akhirnya membungkam suara yang mulai tidak nyaman bagi sebagian pihak.
Namun publik harus jernih melihat dalam konflik tambang, serangan personal seringkali bukan tentang moralitas melainkan tentang perebutan pengaruh.
Apakah benar Yosar sedang “bermain”? Ataukah ia justru sedang berdiri di garis yang berseberangan dengan kepentingan tertentu, sehingga harus dijatuhkan dengan cara paling mudah, membunuh karakter?
Jika kita jujur, pertanyaan yang lebih penting bukanlah siapa Yosar, tapi apa yang sedang diperjuangkan.
Dan yang terlihat di lapangan, suara yang muncul termasuk dari kelompok seperti Bara API adalah suara kegelisahan penambang rakyat. Tentang tekanan, kriminalisasi, dan ketidakpastian hidup.
Menyerang Yosar tanpa membahas substansi sama saja dengan mengalihkan perhatian dari masalah utama.
Standar Ganda yang Terang Benderang
Di sisi lain, publik juga menyaksikan ketimpangan yang sulit dibantah. Aktivitas penambang rakyat terus menjadi sorotan, bahkan penindakan. Sementara operasi skala besar oleh perusahaan seperti PT Merdeka Copper Gold yang melibatkan pengerukan massif hingga pengeboman justru tidak mendapatkan tekanan yang sebanding.
Jika isu lingkungan dijadikan alasan, maka logikanya harus berlaku sama. Jika hukum ditegakkan, maka tidak boleh ada yang kebal.
Di sinilah kritik terhadap Yosar menjadi terasa janggal. Mengapa fokus diarahkan pada individu, sementara struktur besar yang jauh lebih berdampak justru relatif aman dari sorotan?
Pembelaan yang Berdasar
Membela Yosar bukan berarti menutup mata terhadap masa lalu. Tapi keadilan tidak boleh berdiri di atas stigma.
Jika setiap orang terus dihakimi oleh masa lalu tanpa ruang untuk berubah, maka tidak akan pernah ada ruang bagi siapa pun untuk berdiri di sisi yang benar hari ini.
Yang harus diuji adalah sikapnya sekarang, Apakah ia memperjuangkan legalitas bagi penambang? Apakah ia mendorong solusi seperti IPR? Apakah ia berdiri bersama masyarakat atau justru mengambil keuntungan sepihak?
Jika jawabannya berpihak pada rakyat, maka serangan yang datang patut dipertanyakan motifnya.
Apa yang Seharusnya Dilakukan Penambang?
Alih-alih terpecah oleh isu dan propaganda, penambang rakyat justru perlu memperkuat posisi mereka dengan langkah nyata:
- Konsolidasi dan Bersatu
Jangan mudah diadu domba oleh isu personal. Fokus pada kepentingan bersama, legalitas dan keberlangsungan hidup. - Dorong Izin Pertambangan Rakyat (IPR)
Perjuangan harus diarahkan ke jalur resmi. Legalitas adalah kunci agar penambang tidak terus berada dalam posisi rentan. - Bangun Transparansi Internal
Gerakan harus bersih dari kepentingan tersembunyi. Ini penting agar kepercayaan publik tidak mudah digoyang oleh isu seperti yang diarahkan ke Yosar. - Tuntut Keadilan yang Setara
Jika penambang ditertibkan, maka perusahaan besar juga harus diawasi dengan standar yang sama—termasuk PT Merdeka Copper Gold. - Buka Ruang Dialog, Bukan Konflik
Pemerintah, aparat, dan penambang harus duduk bersama. Tanpa itu, konflik hanya akan terus berulang.
Membela Yosar Ruaiba hari ini bukan sekadar soal individu. Ini tentang menolak cara-cara lama dalam membungkam gerakan rakyat: menyerang orangnya, bukan menjawab persoalannya.
Jika ada yang salah, uji dengan fakta, bukan opini yang digiring.
Dan jika ada yang benar-benar sedang berjuang untuk rakyat, maka sudah seharusnya ia tidak dijatuhkan hanya karena masa lalu atau karena kepentingan yang terusik.
Pohuwato tidak butuh lebih banyak kambing hitam.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berdiri di sisi yang benar, meski harus melawan arus.






