oleh : Redaksi Wakilrakyat.co
Tajuk – Ketika Rum Pagau dan Lahmudin Hambali berdiri di hadapan rakyat meminta mandat, yang dijual bukan sekadar nama dan popularitas. Mereka menawarkan harapan. Mereka menjanjikan perubahan. Mereka menjanjikan pemerintahan yang bersih, transparan, berpihak kepada rakyat, dan mampu menghadirkan pembangunan yang nyata.
Namun hari ini, setelah 16 Bulan dilantik sebagai Bupati sebagian masyarakat mulai bertanya, ke mana arah pemerintahan ini sebenarnya berjalan?
Salah satu yang paling mencolok adalah nasib pembangunan Pelabuhan Tilamuta. Proyek yang pernah digadang-gadang sebagai pintu masuk pertumbuhan ekonomi Boalemo itu kini seperti hilang ditelan ombak. Tidak ada perkembangan yang jelas. Tidak ada penjelasan yang memadai.
Yang tersisa hanya pertanyaan publik yang belum terjawab. Aakah proyek itu masih menjadi prioritas atau telah menjadi korban janji politik yang terlupakan?
Di saat yang sama, janji menghadirkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional juga mulai diuji oleh realitas. Publik menyaksikan munculnya sejumlah figur dalam jabatan strategis yang dinilai lebih dekat dengan kepentingan politik daripada prinsip meritokrasi. Kesan yang berkembang di tengah masyarakat adalah bahwa kedekatan politik lebih menentukan daripada kompetensi.
Jika benar demikian, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar posisi jabatan, melainkan kepercayaan publik terhadap komitmen reformasi birokrasi yang selama ini dijanjikan.
Pemerintahan yang sehat tidak dibangun di atas balas jasa politik. Pemerintahan yang kuat lahir dari orang-orang terbaik yang ditempatkan pada posisi yang tepat. Ketika jabatan dipersepsikan sebagai hadiah politik, maka profesionalisme birokrasi perlahan kehilangan maknanya.
Persoalan lain yang juga tak kalah penting adalah pembangunan sarana dan prasarana daerah yang hingga kini belum menunjukkan arah yang jelas. Program pembangunan terlihat berjalan parsial, tanpa narasi besar yang dapat dipahami masyarakat.
Publik lebih banyak menyaksikan kegiatan seremonial hingga perjalanan dinas yang justru menimbulkan antipati terhadap kebijakan Pemerintah.
Masyarakat berhak mengetahui ke mana daerah ini akan dibawa dalam lima tahun ke depan. Apa prioritasnya. Apa targetnya. Dan bagaimana ukuran keberhasilannya.
Rakyat tidak sedang meminta keajaiban. Rakyat hanya meminta konsistensi terhadap apa yang pernah dijanjikan.
Karena sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya kemampuan membangun jalan, pelabuhan, atau gedung pemerintahan. Yang sedang diuji adalah integritas politik. Apakah janji kampanye hanya menjadi alat meraih kekuasaan, atau benar-benar menjadi kompas dalam menjalankan pemerintahan.
Waktu terus berjalan. Masa jabatan terus berkurang. Dan semakin lama jawaban itu tidak diberikan, semakin besar pula ruang bagi publik untuk menyimpulkan sendiri.
Demokrasi mengajarkan bahwa kekuasaan boleh dimenangkan melalui suara rakyat. Tetapi kepercayaan hanya bisa dipertahankan melalui bukti nyata.
Dan hari ini, rakyat mulai menunggu bukti itu.