Wakilrakyat.co, Boalemo – Kasus pembacokan terhadap seorang jurnalis di Gorontalo pada Juni 2021 kembali menjadi sorotan publik. Nama mantan Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, kembali disebut dalam polemik yang mencuat usainya unggahan media sosial dari seorang mantan terpidana kasus tersebut.
Pihak keluarga korban kini mendesak adanya klarifikasi terbuka dari Rusli Habibie terkait dugaan keterlibatannya sebagai aktor intelektual di balik aksi kekerasan yang sempat menggemparkan dunia pers di Gorontalo itu.
Ketua DPD Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Gorontalo, Jhojo Rumampuk, yang juga merupakan adik korban, menyebut kemunculan kembali isu ini membuka harapan baru bagi keluarga untuk mengungkap dalang utama di balik kasus tersebut.
“Sejak awal kami meyakini pengungkapan kasus ini belum menyentuh otak pelaku. Dugaan kami mengarah kepada mantan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. Karena itu kami meminta aparat penegak hukum berani mengusut perkara ini hingga tuntas,” ujar Jhojo kepada wakilrakyat.co.
Menurut Jhojo, kasus pembacokan terhadap jurnalis tidak bisa dipandang sebagai kriminal biasa. Ia menilai terdapat indikasi kuat upaya pembungkaman terhadap kritik dan pemberitaan media.
Di tengah polemik yang berkembang, Jhojo bersama Jeffry diketahui telah menemui Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah, yang juga istri Rusli Habibie, di ruang kerjanya pada Senin lalu.
Dalam pertemuan itu, Idah Syahidah disebut membantah suaminya terlibat dalam aksi premanisme maupun memerintahkan orang lain melakukan kekerasan.
“Ibu Idah menyampaikan bahwa Pak Rusli bukan tipe orang yang menyuruh orang lain melakukan kekerasan. Beliau disebut berani menghadapi persoalan secara langsung,” kata Jhojo menirukan pernyataan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.
Namun, menurut Jhojo, pernyataan itu justru memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat dan memperkuat tuntutan agar kasus ini dibuka kembali secara menyeluruh dan transparan.
Ia menegaskan, keluarga korban tidak ingin pengusutan berhenti pada pelaku lapangan semata. Mereka mendorong aparat penegak hukum menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang diduga berada di balik peristiwa tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, pihak keluarga berencana membawa perkara ini ke tingkat nasional dengan melaporkannya ke sejumlah lembaga negara. Yakni Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)Komisi kejaksaan Republik Indonesia) Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).
“Kami ingin ada pengusutan yang objektif dan transparan. Kasus ini tidak boleh berhenti begitu saja,” tegas Jhojo.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Rusli Habibie terkait desakan klarifikasi terbuka tersebut. wakilrakyat.co masih berupaya meminta konfirmasi kepada pihak yang bersangkutan.