Oleh : Ahmad R Bakari (Pimpinan Redaksi Wakilrakyat.co)

Tajuk – Setahun sudah kursi kekuasaan diduduki. Baliho sudah lama diturunkan. Euforia kemenangan telah usai. Yang tersisa sekarang hanya satu pertanyaan sederhana dari rakyat: di mana realisasi janji kampanye itu?

Lima agenda besar pernah dijanjikan dengan penuh keyakinan. Hari ini, publik menilai: belum ada satu pun yang benar-benar terlihat hasilnya.

Apakah ini soal proses yang lambat? Atau memang visi itu hanya manis di atas panggung politik?

Reformasi Birokrasi: Ganti Wajah, Sistem Tetap?

Reformasi birokrasi dijanjikan sebagai fondasi perubahan. Namun hingga kini, pelayanan publik belum menunjukkan lompatan berarti. Transparansi belum terasa sebagai budaya.

Jika pola lama masih dipertahankan, maka reformasi hanya menjadi slogan kosong.

Reformasi sejati itu mengubah sistem. Jika sistem tak berubah, maka yang berganti hanya posisi dan jabatan.

Belum lagi soal kesejahteraan ASN, TPP masih dalam bayang-bayang pemotongan yang masih dalam imajinasi metode penyelesaiannya.

Masyarakat Cerdas dan Berkualitas: Kata Indah Tanpa Program Nyata

Janji mencerdaskan masyarakat membutuhkan kebijakan konkret: beasiswa, pelatihan kerja, penguatan pendidikan, peningkatan kualitas SDM.

Tetapi publik belum melihat gebrakan.
Belum ada program strategis yang menjadi simbol perubahan.

Jika tidak ada langkah terukur, maka janji ini tinggal kalimat kampanye yang menguap setelah pemilihan.

Ekonomi dan Pariwisata: Visi Besar, Gerak Minim

Ekonomi produktif dan pariwisata berdaya saing dijanjikan sebagai mesin pertumbuhan. Namun geliat ekonomi belum menunjukkan percepatan signifikan.

UMKM masih menghadapi persoalan klasik. Promosi wisata belum terdengar gaungnya secara luas. Investor belum menunjukkan antusiasme.

Tanpa roadmap jelas dan target konkret, visi ekonomi hanya menjadi retorika politik.

Dari sisi ekonomi mungkin masyarakat bisa sedikit lega, karena alun-alun Tilamuta kini ramai dengan UMKM. Namun, itu bukan pure program PAHAM.

Infrastruktur: Pembangunan atau Rutinitas?

Pembangunan infrastruktur seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi. Namun publik belum melihat proyek strategis yang benar-benar mengubah wajah wilayah.

Jika pembangunan hanya sebatas rutinitas tahunan, maka sulit menyebutnya sebagai lompatan visi.

Pelabuhan Tilamuta dan KEK: Mimpi yang Tertunda atau Sekadar Wacana?

Janji menjadikan Pelabuhan Tilamuta sebagai pusat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) adalah ambisi besar. Tetapi ambisi tanpa progres adalah ilusi.

Apakah sudah ada langkah konkret?
Apakah sudah ada komitmen investor?
Apakah pemerintah pusat sudah digerakkan serius?

Jika belum, maka janji ini berisiko menjadi simbol paling nyata dari jarak antara kata dan karya.

Rakyat Tidak Memilih untuk Mendengar Alasan

Satu tahun bukan waktu yang singkat. Publik tidak menuntut keajaiban. Publik menuntut arah dan bukti.

Jika lima janji utama belum menunjukkan hasil nyata, maka pertanyaan “janji tinggal janji?” menjadi semakin relevan.

Tajuk ini bukan untuk menyerang pribadi. Ini adalah cermin demokrasi.
Karena dalam politik, janji adalah utang.

Dan utang kepada rakyat tidak bisa dibayar dengan pidato.

Tahun kedua akan menjadi titik krusial.
Apakah akan ada percepatan?
Atau kepercayaan publik akan terus terkikis?

Sejarah mencatat bukan siapa yang menang pemilu.
Sejarah mencatat siapa yang menepati janji.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *