Boalemo

Ketika Akses Kekuasaan Ditolak, Kisah Anak Wabup yang Lebih Memilih Kerja Keras

2
×

Ketika Akses Kekuasaan Ditolak, Kisah Anak Wabup yang Lebih Memilih Kerja Keras

Sebarkan artikel ini

Boalemo – Di sudut kota Tilamuta, di tengah hiruk pikuk aktivitas masyarakat yang berjalan seperti biasa, ada sosok pemuda yang memilih jalan hidup yang tak banyak orang sangka.

Dia bukan anak dari keluarga biasa. Ia adalah anak dari seorang Wakil Bupati di Boalemo. Posisi yang bagi sebagian orang identik dengan akses, kemudahan, dan kekuasaan.

Namun jalan yang ia pilih justru berlawanan. Alih-alih memanfaatkan jabatan orang tuanya untuk “menitip nama” dalam proyek-proyek pemerintah, ia justru memilih bekerja sebagai penjual air galon.

Setiap hari, ia mengangkat galon, mengantar ke rumah-rumah pelanggan, menembus panas dan hujan, menjalani rutinitas yang bagi sebagian orang dianggap pekerjaan kasar.

Bukan karena tidak punya kesempatan, tawaran untuk “masuk proyek” bukan hal yang sulit baginya. Pintu itu terbuka lebar. Bahkan mungkin tanpa harus mengetuk. Tapi ia memilih menutupnya sendiri.

Baginya, harga diri tidak bisa ditukar dengan kemudahan instan. “Lebih baik capek angkat galon daripada capek jaga nama baik,” begitu kira-kira prinsip yang ia pegang.

Pilihan ini bukan tanpa konsekuensi. Di tengah lingkungan yang kadang masih memaklumi praktik kedekatan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan, sikapnya justru terasa asing. Ada yang menganggapnya bodoh. Ada pula yang diam-diam kagum.

Ia sadar, jalan yang ia tempuh mungkin lebih berat. Penghasilannya tidak besar. Tenaganya terkuras setiap hari. Tapi ada satu hal yang tidak ia gadaikan, integritas.

Di saat banyak orang berlomba mencari jalan pintas, ia memilih jalan yang lurus meski panjang.

Kisah ini bukan sekadar tentang seorang anak pejabat yang bekerja sederhana. Ini adalah potret tentang pilihan, tentang keberanian untuk tidak ikut arus, tentang keyakinan bahwa rezeki yang halal dan usaha sendiri jauh lebih bernilai daripada keuntungan yang datang dari relasi kekuasaan.

Di tengah realitas di mana nepotisme sering dianggap biasa, kisah ini menjadi pengingat, Bahwa tidak semua anak pejabat memilih memanfaatkan jabatan orang tuanya. Bahwa, masih ada yang percaya, kerja keras lebih terhormat daripada “jatah proyek”.
Dan bahwa, integritas sekecil apa pun terlihat tetap punya nilai besar.

Karena pada akhirnya, yang diwariskan bukan hanya nama, tapi juga cara menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *