oleh : Redaksi Wakilrakyat.co
Tajuk- Politik memiliki hukum yang sederhana. Rakyat mungkin bisa lupa pada pidato, tetapi tidak pernah lupa pada program yang mereka rasakan. Sebagus apa pun narasi yang dibangun, sekuat apa pun pencitraan yang dilakukan, pada akhirnya rakyat akan menilai dari satu pertanyaan mendasar, apa yang berubah dalam hidup kami setelah Anda menjadi Pemimpin?
Pertanyaan inilah yang mulai terdengar di berbagai sudut Kabupaten Boalemo. Di warung kopi, di pasar, di kalangan petani, nelayan, hingga pelaku usaha kecil, masyarakat mulai membandingkan kepemimpinan hari ini dengan pemerintahan sebelumnya.
Masyarakat mulai membandingkan Pemerintah Era Darwis yang walau dianggap diktator, tapi programnya mampu merambah ke masyarakat kecil. Dibandingkan dengan Era Rum Pagau, yang hingga hari ini sulit untuk dikatakan menyentuh masyarakat.
Terlepas dari segala kekurangan yang ada pada era Darwis Moridu, publik tidak kesulitan menyebut program-program yang mereka rasakan. Ada bantuan bagi petani, perhatian terhadap layanan kesehatan, bantuan sosial bagi masyarakat kurang mampu, pembangunan infrastruktur yang menyentuh kebutuhan warga, hingga berbagai program pemberdayaan ekonomi.
Program-program itu tidak sempurna, tidak pula tanpa kritik, tetapi kehadirannya terasa dan meninggalkan jejak di tengah masyarakat.
Lalu bagaimana dengan pemerintahan Rum Pagau?
Pertanyaan itu justru semakin sulit dijawab.
Padahal, ekspektasi masyarakat terhadap Rum Pagau sangat tinggi. Sebagai figur yang pernah memimpin Boalemo dan memiliki pengalaman panjang di birokrasi maupun politik, Rum Pagau datang dengan modal kepercayaan yang besar. Banyak warga berharap kepemimpinan kali ini akan menghadirkan terobosan baru, program yang lebih konkret, dan percepatan pembangunan yang bisa langsung dirasakan rakyat.
Namun hingga kini, masyarakat justru lebih sering menyaksikan hiruk-pikuk pencitraan dibandingkan melihat lahirnya program-program besar yang menyentuh kehidupan mereka secara langsung.
Petani masih bergelut dengan persoalan klasik. Pupuk, irigasi, dan harga hasil panen. Nelayan masih dihadapkan pada keterbatasan sarana dan tingginya biaya operasional. Pelaku UMKM masih menunggu sentuhan program pemberdayaan yang nyata. Angka pengangguran masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Sementara sebagian masyarakat justru mulai bertanya-tanya, di mana letak program unggulan yang dijanjikan?
Pertanyaan yang kemudian muncul menjadi semakin serius, Apakah karena ini merupakan periode terakhir Rum Pagau sehingga energi untuk melahirkan program-program besar tidak lagi sekuat dulu?
Pertanyaan ini tentu bukan vonis. Namun dalam demokrasi, pertanyaan tersebut adalah refleksi yang wajar.
Sebab sejarah justru menunjukkan banyak pemimpin menghasilkan karya terbaiknya pada periode terakhir kepemimpinannya.
Mengapa? Karena pada periode terakhir, seorang pemimpin tidak lagi dibebani perhitungan politik untuk pemilu berikutnya. Tidak ada lagi kebutuhan membangun pencitraan demi pencalonan kembali. Tidak ada lagi kepentingan mempertahankan elektabilitas.
Yang tersisa hanyalah satu hal, Bagaimana meninggalkan warisan terbaik untuk daerah dan rakyatnya.
Periode terakhir seharusnya menjadi fase paling produktif bagi seorang pemimpin. Fase ketika seorang kepala daerah dapat berpikir lebih besar, bekerja lebih berani, dan mengambil langkah-langkah strategis yang mungkin tidak bisa dilakukan pada periode sebelumnya.
Tentu tidak adil jika mengatakan tidak ada pekerjaan sama sekali yang dilakukan pemerintah. Pemerintahan Rum Pagau masih memiliki waktu untuk bekerja dan membuktikan diri. Namun, politik juga tidak mengenal penilaian berdasarkan niat. Yang diukur rakyat adalah hasil.
Dalam demokrasi, persepsi publik sangat penting. Ketika masyarakat lebih banyak mendengar polemik politik, mutasi jabatan, Perjalanan Dinas, kegiatan Seremonial, dan perdebatan di ruang publik daripada melihat dampak nyata di lingkungannya, maka lambat laun kepercayaan itu akan terkikis.
Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang dikenang bukanlah mereka yang paling sering berbicara tentang perubahan, melainkan mereka yang berhasil menghadirkan perubahan itu di depan mata rakyat.
Rum Pagau tentu memahami bahwa jabatan bupati bukanlah panggung untuk menikmati kekuasaan, melainkan amanah untuk menjawab harapan masyarakat. Sebab rakyat Boalemo tidak memilih pemimpin untuk menyaksikan seremonial, baliho, atau pidato-pidato yang panjang. Mereka memilih pemimpin agar jalan dibangun, ekonomi bergerak, petani dibantu, nelayan disejahterakan, dan generasi muda memiliki masa depan yang Lebih baik.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak bertanya berapa kali seorang pemimpin turun ke lapangan. Rakyat tidak menghitung berapa banyak rapat yang digelar atau berapa banyak pernyataan yang disampaikan kepada media.
Rakyat hanya akan mengingat satu hal! Program apa yang mereka rasakan selama seorang pemimpin berkuasa.
Dan jika hari ini pertanyaan itu semakin sering terdengar di Boalemo, maka itu sesungguhnya bukan serangan politik. Itu adalah alarm. Alarm bahwa rakyat sedang menunggu bukti.
Sebab dalam politik, tidak ada warisan yang lebih berharga daripada program yang hidup di tengah masyarakat. Dan tidak ada kritik yang lebih tajam daripada ketika rakyat mulai bertanya,
“Pak Rum selama memimpin, apa yang sudah kami rasakan?”